Selamat datang di Website Kami. Mendidik siswa yang berilmu, berwawasan luas, dan berakhlak mulia dan beriman.
mySchool | Pengumuman
Try Out Kejujuran
Dikirim: 06 Mar 2017
full day school
Dikirim: 24 Jan 2017
PENGAMBILAN IJAZAH DAN SKHUN
Dikirim: 08 Sep 2016

index pengumuman
Galeri Aktivitas

SMPN 26 MALANG
Jl. Ikan Gurami No. 36 Malang
Jawa Timur - Indonesia
Telp. 0341-2992436
Web: www.smpn26mlg.sch.id
Email: smpn26mlg@yahoo.com
kontak kami




 Media Informasi


Mewujudkan Pendidikan yang Berkualitas
Dikirim: 22 September 2014

Kecurangan Ujian Nasional bukan lagi sekedar wacana. Berbagai bentuk kecurangan terjadi selama pelaksanaan UN. Dari berbagai kecurangan tersebut, salah satunya ditemukan oleh Komunitas Air Mata Guru (KAMG) di Sumatera Utara.

KAMG menemukan bukti kecurangan berupa kunci jawaban yang ditulis atau diketik pada selembar kertas.

Hal yang mengejutkan, Kemendikbud sendiri menerima 585 pengaduan perihal kecurangan dan kebocoran pada penyelenggaraan UN SMK, SMA, dan madrasah aliah tahun ini.

Miris? Ya, bagaimana tidak miris ketika potret pendidikan kita seperti saat ini. Kecurangan UN seperti sudah menjadi konsumsi umum dan bukan lagi sebuah aib.

Dunia pendidikan kita pun diwarnai dengan menjamurnya materi yang tidak layak dikonsumsi peserta didik seperti kata-kata vulgar.

Bahkan, ajaran komunisme pun kemudian disusupkan dan ini diajarkan kepada peserta didik seperti yang terjadi di sebuah sekolah di Sukabumi.

Fenomena di dunia pendidikan tak ubahnya fenomena gunung es. Pendidikan yang berperan mengintegrasikan pola pikir dan pola sikap terbukti gagal.

Karena bagaimana peserta didik bisa menjadi generasi berkualitas, sedangkan materi yang diajarkan tidak menopang untuk pembentukan generasi berkualitas dan beradab.

Mengingat asas pendidikan kita berbasis sekulerisme –memisahkan agama dari kehidupan-, maka menjadi sebuah kewajaran jika kita menemukan berbagai hal yang menyimpang dari dunia pendidikan.

Misalnya dalam pelaksanaan UN, aksi contek mencontek dilakukan siswa, mereka tak lagi memikirkan dosa yang tengah dijalankannya.

Hal inipun diperparah oleh praktisi pendidikan yang dengan suka rela memberikan jawaban kepada peserta didik, tanpa menimbang baik buruknya.

Hal inilah yang kemudian menjadikan output pendidikan kita tidak berkualitas sebagaimana yang diharapkan. Lantas apa yang didapat dari pembelajaran yang selama ini dienyam? Hanya sekedar nilai tanpa aplikasi kah?

Dalam Islam, pendidikan berperan untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa dengan mengintegrasikan pemikiran dan realisasi sikap dalam kehidupan.

Tidak akan ada lagi cerita mengenai kecurangan UN, karena individu-individunya baik itu peserta didik maupun praktisi pendidikan sudah sangat memahami konsep dosa dan bagaimana konsekuensi yang didapat nanti jika mereka melakukan hal yang demikian.

Materi yang diajarkan pun materi yang membentuk pola pikir individu agar menjadi generasi berkualitas yang memberikan kontribusi bagi negaranya.

Untuk mewujudkan semua itu, negara wajib menyediakan pendidikan berkualitas bagi seluruh warga negaranya secara gratis. Sehingga setiap orang bisa mengenyam pedidikan.

Negara wajib menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan. Membangun gedung-gedung sekolah dan kampus yang representatif, laboratorium yang lengkap untuk menunjang berbagai riset.

Memberikan tunjangan penghidupan yang layak baik bagi para pengajar maupun kepada para pelajar. Pend idikan seperti ini akan sangat sulit diwujudkan jika sistem ekonomi yang digunakan adalah sistem ekonomi kapitalis seperti yang tengah diterapkan negara ini.

Sistem pendidikan tidak akan terwujud tanpa topangan sistem yang lainnya, tentunya sistem yang digunakan pun tidak bisa berlainan sistem. Walhasil, perlu adanya sebuah penerapan sistem pemerintahan Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah.

*Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia dan Aktivis Komunitas Muslimah Pembebas Generasi


Rismayanti Nurjannah
Jl. Geger Kalong Girang, Bandung
rismayantinurjannah@yahoo.co.id
082115632175

(wwn/wwn)

Sumber: Detik


Halaman sebelumnya    Indeks Berita